Oleh
Christovel, S.Th
2023
SEKAPUR SIRIH PENIKAHAN ADAT
SUKU DAYAK KANAYATN
Secara
umum, adat perkawinan orang Dayak Kanayant dimulai dengan pinangan dan diakhiri
dengan membongkar tingkalakng (barang bawaan). Adat perkawinan suku Dayak
Kanayant sangat melarang perkawinan dua orang yang masih terikat keluarga.
Pelaksanaan
upacara dipusatkan di rumah pengantin perempuan. Meskipun demikian, di rumah
pengantin laki-laki biasanya juga digelar upacara sederhana bersama kerabat.
Peralatan dan bahan upacara perkawinan adat Dayak Kanayant tergantung pada
model perkawinan yang akan digelar. Akan tetapi, secara umum peralatan dan
bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
ü
Kue
tumpi’ (cucur)
ü
Nasi
pulut (lemang)
ü
Babi
ü
Ayam
ü
Uang
logam
ü
Cincin
emas
ü
Pakaian
laki-laki sehari-hari
ü
Pakaian
perempuan sehari-hari
ü
Kain
tenun
Pelaksanaan
upacara adat perkawinan Dayak Kanayant digelar dalam beberapa tahap, antara
lain tunang, bisik gumi, balawakng karamigi, pasamean, hingga parabut
pelaminan. Namun dalam kesempatan ini, kami ingin menyajikan prosesi pernikahan
secara kolaboratif, antara Penikahan Adat, Penikahan Gereja dan Pernikahan
Modern Abad 21.
Semoga
dengan diterbitkannya buku panduan ini dapat menjadi inspirasi dan referensi
bagi setiap keluarga baru dalam melangsungkan prosesi pernikahan.
PERSIAPAN
PRA-NIKAH ADAT
PACARAN
Pertemuan, perkenalan,
persahabatan dan akhirnya menjadi teman dekat antara dua orang muda
(bujang-dara) dalam keseharian mereka terkadang hingga membawa pada hubungan
serius atau di sebut dengan pacaran.
Pacaran menurut wikipedia adalah proses perkenalan
antara dua individu yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian
kecocokan untuk bereproduksi melalui perkawinan.
Tradisi pacaran
memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi
individu-individu dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses
pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang
ekslusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh agama dan
kebudayaan yang dianut oleh seseorang.
Menurut DeGenova & Rice (2005) pengertian
pacaran adalah menjalankan suatu hubungan dimana dua orang bertemu dan
melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat saling mengenal satu sama
lain.
Prinsip-prinsip dalam
berpacaran adalah :
1. Tidak mengorbankan hubungannya
dengan teman atau keluarga
2. Menghargai hal-hal kecil yang
dilakukan sang pacar untuknya.
Pacaran merupakan
tindak lanjut dari perasaan cinta dan sayang yang berhasil di ungkapkan kepada
seseorang lawan jenis. Berpacaran merupakan proses pengenalan seseorang sebagai
sepasang kekasih untuk mengetahui seseorang lebih dalam, agar kelak dapat memutuskan
dengan matang hubungan tersebut apakah dapat dibawa ke jenjang yang lebih
serius untuk selamanya atau tidak.
Ada
5 Tujuan Pacaran Menurut Alkitab Dalam Ajaran Kristiani, yaitu :
1.
Menemukan pasangan yang sepadan (Kej 2:18)
2. Menemukan pasangan yang saling menguatkan kelemahan
masing-masing (Pengkh 4: 9-10)
3.
Menghasilkan buah Roh
4. Memuji
dan memuliakan Tuhan
5. Membuat komitmen dan rencana menuju pernikahan kudus
Yang perlu disikapi
dalam pacaran :
Proses pacaran yang
akhirnya menimbulkan cinta harus dilandasi oleh perasaan peduli pada dia yang
dicintai dan ekspresi cinta itu bisa bermacam-macam; antara lain pertemanan,
persahabatan, romantisme, menghormati batas-batas moral dan etika dll.
Jika orang yang
dicintai meminta untuk melakukan sesuatu sebagai bukti cinta maka dia tidak
mencintai kamu, apalagi jika bukti cinta itu adalah hubungan seks dan sentuhan
fisik.
Ukuran cinta adalah
komitmen dan kepercayaan bukan sekedar ketertarikan fisik.
PINANGAN
Pinangan merupakan
prosesi awal ketika dua anak muda saling suka yang dilakukan oleh orang tua
pihak laki-laki.
Sebelum melakukan
pinangan, pihak laki-laki melakukan pertemuan 4 waris yang di sebut dengan
Bisik Gumi, yaitu penyatuan pendapat tentang calon isteri dari anak laki-laki
mereka.
Pada tahap ini hampir
semua bentuk prosesinya sama, yaitu orangtua mempelai laki-laki meminta kepada
orang tua perempuan untuk meminang anaknya. Pada umumnya, lamaran ini akan
diterima, apalagi ketika dinilai selama proses pacaran anak-anaknya, keduanya
menunjukan sikap baik dan terpuji di
mata orang tua kedua belah pihak.
BISIK GUMI
Tahap ini adalah tahap
di mana orangtua laki-laki memanggil segala warisnya yang terdiri dari 2
saudara pihak bapak dan ibu (4 waris), untuk berunding. Hal yang dirundingkan
adalah menyelidiki apakah calon menantu perempuan yang dipilih masih terikat
keluarga atau tidak, dan untuk mengetahui apakah calon menantu perempuan itu
cocok dijadikan istri. Setelah calon mempelai perempuan yang dimaksud telah
disetujui, maka 4 waris kemudian memilih seorang Picara, ada kalanya juga
langsung menunjuk pendoa (panyangahatn) jika terdapat banyak pendoa di tempat
tersebut. Dalam pertemuan itu membahas dan penelusuran tentang 3 hal, yaitu
apakah ia masih terikat keluarga; jika masih terikat keluarga dekat maka harus
mengeluarkan Adat Pangaras dan Pangarumpakng, jika ada ikatan keluarga tapi
jauh ia harus membayar Adat Pari Basah.
Sama hal yang dilakukan oleh pihak laki-laki, pihak perempuan juga akan menggelar pertemuan 4 waris (2 pihak bapak dan 2 pihak ibu). Balawang
Karamigi
Kurang
lebih 3 hari setelah perundingan, Picara datang ke rumah mempelai perempuan
untuk bertemu dengan bapak sang gadis. Picara Pihak Laki-Laki akan bertanya
dengan kata-kata ungkapan yang akan dijawab oleh tuan rumah atau diwakili
oleh Picara Pihak Perempuan. Jawaban dari tuan rumah atau wali/Picara
inilah yang menentukan apakah lamaran itu diterima atau tidak.
|
PASAMEAN
Pasamean atau disebut
juga Bakomo’ Manta’ dilangsungkan sekitar pukul 19.00 di rumah calon mempelai
perempuan, yaitu membuat tambul, tumpi’, nasi pulut, dan menyembelih seeokor
ayam.
Acara hanya disajikan
lewat doa pembukaan, dilanjutkan penyampaian maksud kedatangan dari Picara
pihak laki-laki dan rombongan, lalu disambut dengan ungkapan kata-kata dari Picara
pihak perempuan atau waris perempuan untuk menentukan apakah lamaran diterima
atau di tolak. Setelah ada kata sepakat, maka pihak perempuan akan mengirimkan
sebentuk cincin kepada calon mempelai laki-laki serta barang-barang penanda
penerimaan lamaran dalam kotak bawaan berisi kain yang mengalamatkan keseharian
sang perempuan yaitu jika berisi kain belacu, berarti calon istri siap untuk
membantu calon suaminya menjadi petani, namun jika berisi kain-kain mewah
seperti batik/sutera, maka itu pertanda kalau sang istri tidak mampu membantu
mengerjakan sawah/ladang atau pekerjaan pertanian lain.
Pada saat menyerahkan
kotak dan cincin tersebut, pihak utusan perempuan mengucapkan kata “matamuan
asap bontokng” (kedua pihak telah mempersatukan asap dapurnya). Demikian pula Pihak mempelai laki-laki akan membalas
memberikan benda-benda kuno dan cincin sebagai pertanda ikatan.
TUNANGAN
Bakomo’
Masak
Ketika di temukan
sifat dan karakter yang hampir sama selama pacaran, dan adanya pinangan dari
pihak laki-laki, maka tahapan selanjutnya adalah melaksanakan pertunangan.
Saat ini, sistem
tunangan ini masih dilakukan meskipun sebenarnya antara kedua calon sudah
saling mengenal dan bersepakat untuk menikah dan sudah dilakukan pinangan.
Dalam konteks ini, tunang dilakukan untuk menghormati adat.
Dalam tradisi adat
Dayak Kanayatn, selama proses pertunangan berlangsung (tergantung kesepakatan
kedua belah pihak untuk menentukan lamanya masa pertunangan), maka kedua
tunangan tidak boleh saling bertemu, hal ini bertujuan agar keduanya tidak
saling menaruh curiga atau hal lain yang di pamali kan. Namun, dalam masa
modern saat ini, hal pertemuan ini boleh saja dilakukan apalagi untuk bertujuan
untuk lebih mengenal lebih spesifik antar kedua tunangan.
Prosesi pertunangan
dilakukan dengan cara-cara ibadah pertunangan yang di langsungkan di rumah
orang tua perempuan. Bahan-bahan yang dipersiapkan dalam pertunangan adalah :
sepasang cincin tunangan. Cincin ini dapat disediakan oleh tunangan laki-laki
atau dipersiapkan keduanya untuk di pasang nantinya pada saat prosesi ibadah
pertunangan.
Pertunangan
dilangsungkan dengan cara pemberian cincin pengikat, hal ini sebagai simbol
atau tanda bahwa mereka ini sudah terikat tunangan dan diharapkan agar untuk
tidak diganggu oleh orang lain apalagi merayu dalam hal pembatalan pernikahan.
Ucapan yang diucapkan
pada saat memasang cincin pertunangan adalah : “saya mengikat engkau …(sebutkan
namanya)… dengan memasangkan cincin ini di jarimu sebagai bukti atas cinta
dan sayangku kepadamu dalam keadaan suka maupun duka hingga kita dipersatukan
di hari pernikahan suci dan kudus kita dalam bimbingan Allah, Bapa di Sorga.”
Karena proses
meminang, maka pihak laki-laki dapat saja membawa kerabat lain (yang dianggap
layak hadir) untuk menyaksikan prosesi pernikahan.
Pertunangan dapat
batal jika di kemudian hari terdapat ketidakcocokan yang disebabkan hal-hal
internal tunangan, misalnya sering terjadi cekcok/perkelahian yang bersifat
fatal, salah satu pihak melarikan diri atau ingkar terhadap janji pertunangan,
atau terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan (ekseternal)
Dalam hal pertunangan
batal jika disebabkan karena hal-hal internal, maka pihak yang membatalkan
dapat dikenakan sanksi adat Kaburukatn Pakarakng.
PERSIAPAN
PESTA PERNIKAHAN
Parabut Pelaminan
Setelah kedua belah
pihak setuju, masing-masing Picara akan mendatangi keluarga mempelai untuk
menanyakan kelengkapan segala persyaratan. Jika sudah lengkap, Picara akan
bertanya perkawinan akan digelar dengan cara apa, bagawe jambu Jawa (kedua
belah pihak orang kaya dengan pesta besar), bagawe mokokngi (keduanya keluarga
sederhana), atau bagawe ngauwak copak (kedua keluarga amat sederhana). Jika
sudah memilih salah satu, perkawinan akan segera digelar.
BATAPSONG
Kegiatan Batapsong
dilangsungkan oleh kedua pihak calon mempelai, kegiatan ini biasanya melibatkan
seluruh atau sebagian masyarakat lingkungan untuk mempersiapkan pesta dan
penyambutan calon mempelai dan rombongan.
Kegiatan Batapsong
relative, tergantung jenis gawe yang akan diselenggarakan oleh masing-masing
tuan pesta.
Dalam Batapsong,
biasanya masyarakat lingkungan yang membantu menghantarkan bahan-bahan
keperluan persiapan dan pelaksanaan pesta antara lain : kayu bakar, kayu suuh
(bamboo yang sudah mati), soekng/buluh (buluh ukuran kecil dan besar) dan daun
layang, pembuatan tarup (tapsong) atau pembuatan pentas (jika ada hiburan) dan
dijamu dengan memberikan makanan siang
serta perlengkapan sirih untuk di makan di tempat pesta.
Kegiatan ini biasanya
dilaksanakan seminggu sebelum pelaksanaan pesta.
BASOOKNG
Kegiatan Basookng
dilangsungkan pada malam H-1 pelaksanaan pesta, jika pesta di gelar pada hari
minggu, basookng dilaksanakan pada jumat malam, yang terlibat dalam kagiatan
basookng adalah warga sekitar rumah tuan pesta.
Kegiatan ini
dimaksudkan untuk membantu tuan pesta cucur (membuat adonan) dan lemang
pemberian alas daun pisang dalam buluh serta diisi dengan beras pulut yang
sudah di rendam atau pembuatan ketupat pulut, serta pembuatan 7 ancak (tempat
sesaji adat).
Setelah semua
persiapan selesai, sebagai ungkapan terima kasih tuan pesta biasanya disuguhkan
minuman tradisional (arak/tuak) dan hiburan kecil pra-pesta.
MACAH BARAS
Macah baras merupakan
persiapan pesta di keluarga tuan pesta, dimana seluruh persiapan tempat dan
bentuk pesta sudah di tentukan.
Macah Baras diawali
dengan Ibadah/Nyangahatn Ka Saka Maraga. Ibadah/Nyangahatn ini dilaksanakan di
persimpangan jalan terdekat dengan rumah tuan pesta, persimpangan dimaksud
dapat berupa jalan besar atau gang, tujuan dilaksanakannya Nyangahatn Ka Saka
ini adalah meminta kepada Tuhan (Jubata) untuk memberikan rahmat dan karunia
akan dilangsungkanya pesta, jangan ada halang yang merintang terhadap
berlangsungnya persiapan dan pelaksanaan pesta, serta meminta Kuasa Tuhan
(Jubata) melalui Roh-Nya memanggil dan mengingatkan kembali seluruh kerabat dan
undangan untuk menghadiri pesta.
Dilanjutkan dengan
memotong seekor babi yang di sebut sebagai Pangayur Rahatn. Babi yang dipotong
ini relative, tergantung ukuran (berat) nya, jika beratnya hanya dua puluhan
kilogram, maka hanya digunakan untuk daging saat makan pagi dan siang, tetapi
jika beratnya signifikan (40-50an ke atas) dapat digunakan bagian-bagian
terpenting dari potongan daging babi untuk pirikng.
Masyarakat/tetangga
sekitar membantu tuan pesta menyiapkan segala keperluan pesta, ada yang di
dapur masak (disebut juga teosong/jamcok), ada pula yang memasak nasi pulut
(lemang), ada yang memasak tumpi’ (cucur) da nada yang mempersiapkan tambul
untuk persoapan malam utama pesta.
PANGANTEN TURUTN BARASI
Calon Mempelai lelaki
turun barasi dipimpin oleh dua picara dan empat waris pihak laki-laki, dimulai
dari turun tangga di rumah pengantin laki-laki. Sebelum keluar rumah picara pihak
laki-laki harus sudah bapamang (ucap doa meminta pertolongan) bertujuan meminta
jalan yang baik (bias juga dipimpin oleh pendoa/panyangahatn). Rombongan
pangantin ini biasanya terdiri dari satu orang picara dari sebelah laki-laki,
didampingi oleh satu orang picara dari sebelah perempuan, orang tua calon
mempelai dan empat waris serta pengantin yang terdiri dari tujuh orang bujang
dari pihak laki-laki. Sebelum berangkat, kepala rombongan (picara pihak
laki-laki) harus memastikan kesiapan keperluan yang harus dibawa ketika turun
dari rumah si laki-laki, akan menuju rumah pengantin perempuan, misalnya
seperti langir binyak, beras banyu, beras sasah, serta sebuah tingkalakng (dapat
pula terbuat dari kotak) yang berisi ayam rebus dan ayam hidup yang disebut
angsa, dan lengkap dengan beras paawakng dan beras pulut serta bahan-bahan
lainnya seperti tumpi’, poe’, sekapur sirih, nasi setungkus/sebungkus (nasi
yang dibungkus dengan daun layakng).
Mengingat perjalanan
ini akan menuju ke persiapan pemberkatan Nikah, Rombongan dan Calon Mempelai
Laki-Laki dapat saja mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan untuk
pemberkatan/peneguhan nikah.
PERTEMUAN ANTARA CALON
MEMPELAI LAKI-LAKI DAN CALON MEMPELAI PEREMPUAN
Ketika mendekati atau
hendak memasuki pintu masuk gereja, rombongan pengaantin laki-laki dihentikan
pada titik tertentu untuk turun berjalan menghampiri calon mempelai perempuan,
diiringi dengan tarian penyambutan sebanyak 9 personil penari, 4 personil (1
cowok dan 3 cewek) berada di pihak laki-laki dan 4 personil (1 cowok dan 3
cewek) berada di pihak perempuan, serta 1 cowok penari sebagai panglima perang,
untuk menghantarkan ke ruang ibadah pemberkatan.
Dalam hal Calon
Mempelai diiringi dengan tarian, masing-masing calon mempelai didampingi oleh 2
orang pengantin (di kiri-kanan calon mempelai) serta rombongan di belakangnya.
Iring-iringan Calon
Mempelai dan Rombongan hanya sampai di depan pintu masuk gereja (teras gereja)
kemudian dilanjutkan dengan persiapan prosesi di gereja.
PROSESI PENEGUHAN NIKAH DI GEREJA
Ketika Calon Mempelai
dan Rombongan akan memasuki ruang ibadah, musik iringan calon mempelai
dibunyikan dan seluruh jemaat yang akan mengikuti ibadah pemberkatan nikah
dalam posisi berdiri, hingga seluruh rangkaian ibadah di ambil alih oleh
pelayan ibadah pemberkatan nikah.
Barang
perlengkapan yang disiapkan dalam prosesi pemberkatan nikah adalah :
1. Dekorasi Gereja (jika dimungkinkan)
2. Tempat Duduk Mempelai (sepasang)
3. Bantal untuk berlutut
4. Cincin (sepasang)
5. Sound System yang sepadan
Catatan :
Sebelum pelaksanaan
pemberkatan, Calon mempelai sudah harus memenuhi persyaratan gerejawi yaitu
sudah di babtis dan sudah di angkat sidi. Jika kedua syarat utama ini belum
terpenuhi, maka keduanya harus dilakukan syarat ini.
Selanjutnya,
sebelum pemberkatan juga, kedua calon mempelai sudah menerima Katekisasi
Gereja, yaitu pemahaman tentang pernikahan dan rumah tangga.
|
PARADE PENGIRINGAN MEMPELAIPanganten
Bajaatn
Keluar dari gedung
gereja, mempelai dan rombongan diiringi dengan parade pengiringan pengantin,
dapat berupa iringan musik maupun marchingband hingga pada titik tertentu,
dilanjutkan dengan tarian tradisional pengiringan pengantin (dilakonkan oleh 9
penari yang tadi mengiringi calon mempelai dan rombongan memasuki ruang
ibadah).
Penari, Mempelai dan
Rombongan akan bergerak ketika music pengiring tarian mulai dibunyikan (musik
live atau musik dari kejauhan jika menggunakan pengeras suara kuat).
Rombongan ini hanya
sampai pada titik tertentu penyambutan khusus dari rombongan lain mempelai
perempuan.
MENYAMBUT ROMBONGAN MEMPELAI
Rombongan lain dari
pengantin perempuan akan menyambut dengan menebarkan beras kuning. Setelah itu,
seseorang dari pihak perempuan menyerahkan beras banyu sepinggan ke Picara
Perempuan. lalu Picara menerimanya dan mencelupkan tangannya ke dalam beras
tersebut serta mengusapkan tangannya ke dahi pengantin laki-laki sebagai tanda
ia telah membersihkan segala kekotoran selama perjalanan. Setelah itu, seorang
gadis datang membawa seteko air putih dan menuangkannya ke kaki kedua mempelai.
Kedua pengantin lalu masuk ke rumah dan duduk di serambi rumah diikuti
rombongan. Saat mereka duduk, datanglah seorang gadis membawa sepiring beras
pulut, beras biasa, seperangkat sirih, beras banyu, dan seekor ayam (jantan) yang
lalu dikipas-kipaskan sebagai simbol membuang sial selama perjalanan rombongan pengantin.
Catatan :
Selama
berlangsungnya upacara malam, jika tersedia hiburan rakyat/malam, hendaknya
tim hiburan sudah mempersiapkan segala peralatan hiburan dan steril sebelum
jam 15.00 waktu setempat.
Sebab acara di rumah
mempelai akan sangat sakral dan padat dan tidak di ganggu dengan kebisingan
di luar.
Live acara di ruang
utama dapat disajikan melalui layar monitor di luar atau pentas.
|
Hantaran Panganten Laki-laki
Rombongan pengantin laki-laki dipimpin oleh
Picara pergi ke rumah mempelai perempuan dengan diiringi oleh para pemuda
yang dipilih. Mereka membawa makanan dan atokng (kotak) yang berisi uang
logam, ayam yang telah direbus, dan pakaian laki-laki sehari-hari. Barang
yang ada di dalam atokng menjadi alamat atau pertanda bagi calon mempelai
perempuan. Jika berisi kain belacu, berarti calon suami meminta calon istri
untuk membantunya menjadi petani, namun jika berisi kain-kain mewah seperti
batik maka itu pertanda kalau sang istri tidak perlu susah-susah membantu
mengerjakan sawah.
|
IBADAH MALAM
Nutuh
Bunga Puan
Ibadah malam
dilaksanakan secara biasa dan singat, dimulai pukul 19.00 tepat waktu setempat.
Kedua mempelai duduk bersanding di damping Picara kedua belah pihak, Orang Tua
Kedua Mempelai dan Rombongan Pengantin kedua mempelai.
Dalam ibadah, yang
dipersiapkan dan di sajikan dalam ritual ibadah adalah Pinggan Besar (talam)
berisi cucur dan pulut, talam berisi beras dan kue cona (kelotok merah)
diatasnya dipasang Bunga Puan pengantin, talam berisi tambol pulut (kelapon
khas dayak), serta minuman yang mengelilingi talam bunga puan, talam berisi
telur (rebus) pernikahan, pinggan berisi rokok, talam berisi cangkir untuk
minum, saapa berisi pinang, sirih, kapur dan perlengkapannya, serta
buah-buahan.
Ketika ibadah selesai,
pelayan dibantu rombongan pengantin perempuan, menyuguhkan minuman kepada
seluruh tamu yang hadir dalam ruangan, diiringi musik di pentas (kalau dapat
ada 1 set box control music di dekat ruang prosesi acara.
Setelah acara Nutuh
Bunga Puan, dapat dilangsungkan dengan makan malam seluruh keluarga dan kegiatan
ini menyesuaikan waktu, dapat dilangsungkan hingga jam 21.00. Kemudian
dilanjutkan dengan Panganten Taama.
NYANGAHATN NABARE’ RASI
Pengantin
Taama’
Mantokng katinge’
(membersihkan dinding kamar mempelai) adalah istilah yang diibaratkan dalam
artian bahasa adat yaitu mempelai lelaki beserta rombongan dipersilahkan masuk
dalam kamar/bilik tempat tidurnya mempelai perempuan. Kegiatan ini dilaksanakan
setelah ibadah malam. Sebelum mempelai lelaki masuk dalam bilik mempelai, sang mempelai
perempuan didampingi pengantin perempuan telah duduk di tempat yang telah
ditentukan oleh Picara. Ditempat ini juga telah disediakan alat peraga seperti:
cucur, lemang, nasi tenung sepiring serta sirih sekapur (disebut sirih papinangan
yang disimpan dalam selapa).
Pengantin laki-laki
masuk kedalam ruang pelaminan dengan membawa pepinangan/saapa (sebuah tempat
sirih). Ketika si pengantin duduk bersanding, disebelah kanan si perempuan, maka
si mempelai lelaki menyodorkan bahan pepinangan kepada si mempelai perempuan dan
sebaliknya mempelai perempuan menyodorkan bahan pepinangan juga kepada mempelai
laki-laki. Ketika saling mempertukarkan bahan pepinangan tadi hendaknya jangan sampai
bersentuhan, karena hal tersebut dianggap lancang/tidak sopan (basa). Kebiasaan
ini telah berlaku turun temurun.
NGARAPAT PENGEKNG PANGANTEN
Setelah acara saling
mempertukarkan bahan pinangan selesai, maka si picara akan mengajak semua
hadirin untuk menyaksikan acara marapat pengekng yaitu acara mempersatukan
mereka selaku mempelai pengantin. Acara
ini ditandai dengan Picara berdiri dihadapan kedua mempelai sambil mengambil
nasi pulut yang telah tersedia dihadapannya dan dipegang-nya pada kedua belah
tangannya. Lalu tangannya dipersilahkannya keatas bahu lelaki dan perempuan.
Tangan kanan meletakkan nasi pulut tadi di atas bahu lelaki, dan tangan kirinya
meletakkan nasi pulut tadi di atas bahu perempuan, dengan berdoa dalam bahasa
adat yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai berikut kira-kira
begini: “kami selaku Picara dengan ini mempersatukan atau merapatkan mereka
berdua ini dengan pulut, kiranya mereka dapat seia sekata supaya bersatu
berumah tangga dan murah rejeki, apa yang dicinta dan diharapkan dengan mudah
didapat serta sampai keanak cucunya…”
Pituah
Selesai acara, salah
satu dari Picara memberikan petuah atau nasehat kepada kedua mempelai yang akan
mengarungi samudra rumah tangga, yang bunyinya: “Kalian berdua pada saat ini
telah dipersatukan oleh Jubata (Tuhan) secara adat, yang disaksikan oleh kaum
keluarga masing-masing. Dengan demikian mempelai laki-laki saat ini bukan lagi
bujakng, tetapi telah bertanggungjawab kepada istrinya selaku suami.
Demikian pula si
perempuan pada saat ini bukan lagi dara, tetapi telah menjadi ibu rumah tangga
yang patuh dan mendampingi suaminya dalam menjalankan roda kehidupan rumah tangga
dan harus ingat akan pesan-pesan picara/pajarupm.”
NGARAMA BABOTN TUNANGAN
Prosesi ngarama babotn
tunangan adalah persiapan pengisian Tingkaaakng Parimatatn dan Tingkaakng
Picara.
Tidak semua orang bisa
melakukan kegiatan ini, hanya orang-orang tertentu yang mengerti dan
pelaksanaannya di ruang tengah (serambi) rumah.
Satu ekor babi yang
beratnya tergantung, dipotong dan di pisahkan masing-masing bagian sehingga menjadi
peraga adat yang besoknya akan di sajikan dalam ibadah/nyangahatn Buis bantatn
Panganten.
MANI’ KA SUNGE
Keesokan paginya,
kedua pengantin pergi ke sungai untuk mandi sambil membawa bara api dari dapur.
Sesampai di sungai, mereka akan duduk di tepi sungai lalu berdoa sambil
memegang bara api yang kemudian dicelupkan ke sungai. Tindakan ini merupakan
simbol agar Jubata (Tuhan) memadamkan bencana yang akan mengancam mereka
seperti padamnya bara api tersebut.
NYANGAHATN NGADAP BUIS BANTATN
Nyangahatn (ibadah)
Ngadap Busi Bantatn dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 atau paling
lambat pukul 08.00 sebelum pesta di mulai.
Nyangahatn dipimpin
oleh pendoa (sebelumnya dapat dilaksanakan secara gereja dengan singkat),
dihadiri oleh Picara kedua belah pihak, orang tua dan waris kedua belah pihak
serta orang umum yang ingin menyaksikan prosesi nyangahatn.
Paraga
Buis bantatn :
1. Perlengkapan Tingkaakng Parimatatn
2. Perlengkapan Tingkaakng Picara
3. Daging babi masak (Rusuk Dada)
4. Kobet
5. Angir Binyak
6. Baras Banyu
7. Api (pelita/lilin)
8. Tempayan (siam/manyanyi)
9. Tutup lagor
10. Babi Pirikng
Pasangan
mempelai duduk di atas alu bersanding, alu adalah dua batang kayu untuk
menimbuk padi diikat kuat dengan tali bintanung sebagai symbol 2 orang yang di
satukan dan diikat kuat oleh perjanjian pernikahan.
PAJANGAN PELAMINAN
Pajangan Pelaminan
merupakan bagian dari kebiasaan modernisasi, dimana kedua mempelai duduk
bersanding di pelaminan yang sudah disiapkan pada tempat tertentu dengan
dekorasi dan aksesoris yang sedemikian megah.
Biasanya pelaminan ini
di pasang/dipajang di depan pintu utama, namun dapat juga di pasang di tempat
tertentu yang strategis dan mudah dijangkau oleh tamu undangan.
Di pelaminan sendiri
di pasang 3 set kursi, yaitu satu set pajangan utama untuk mempelai dan 2 set
untuk orang tua kedua mempelai. Namun dapat di pasang masing-masing 1 kursi di
kiri-kanan kursi utama mempelai untuk dayang-dayang (pengantin).
PROSESI MACAH PIRIKNG
Pirikng merupakan symbol
hubungan kekerabatan dari pelaksana hajatan (tuan pesta) dengan segenap ahli waris.
Hubungan kekerabatan ini di atur berdasarkan atau disimbolkan dengan
bagian-bagian dari daging babi mulai dari kepala (raakng) hingga ke paha dan
ekor.
Ada 2 bentuk pirikng
yang disajikan/dibuat berdasarkan jenis gawe yang di laksanakan.
Gawe Karaja
Gawe karaja merupakan pesta
yang dilaksanakan untuk menghormati leluhur bagi suku dayak kanayatn, dimana
gawe ini merupakan gawe yang sangat besar dengan persiapan yang sangat besar
pula. Tradisi ini di iringi dengan menembakan meriam sebagai simbol dibukanya
gawe.
Tidak semua orang
dapat melaksanakan gawe ini, hanya bagi keturunan yang sudah pernah mengayau
dan meninggalnya di-pantak-kan, dan dilaksanakan secara turun temurun. Jika
orang tua di atasnya belum melaksanakannya, maka anak nya tidak dapat
melaksanakan Gawe Karaja meskipun orang kaya sekalipun.
Pirikng untuk Gawe
karana adalah pembagian bagi seluruh anggota keluarga yang hadir (titi urat
tuba)
Gawe Nangket
Istilah gawe nangket
dalam hal ini ada 2 bentuk, yaitu gawe panganten yang dilaksanakan setelah
kedua pengantin merasa sudah mempan dan sebelumnya (sejak pernikahan mula)
belum pernah dilaksanakan gawe.
Istilah lain adalah
dalam hal pengadaan pirikng meskipun pelaksanaan gawe adalah perdana atau
panganten baru dan meskipun jenis gawe yang di laksanakan adalah gawe jambu
jawa.
Gawe Panganten Badapur
Sete’
Gawe Panganten Badapur
Sete’/Sote’ adalah gawe yang dilaksanakan secara bersama dari pihak laki-laki
dan perempuan.
Pirikng Panganten
Adat
macah piring berupa irisan daging babi yang diletakkan diatas piring atau daun
sebanyak 2 kali 32 buah pirikng atau 64 pirikng. Pembagian pirikng ini diatur
sebagai berikut :
1. 32 pirikng dibagi kepada ahli waris sebelah
bapak
2. 32
pirikng dibagi kepada ahli waris sebelah ibu
|
Tabel Pembagian Pirikng
|
|
Nama Pirikng
|
Bagian Tubuh Babi
|
Penerima
|
|
Raakng
|
1
|
Kepala Bagian Bawah
|
Saudara kandung
(Generasi 1)
|
|
Katapi
|
2
|
Pundak di atas kaki bagian depan
|
Saudara Kandung Orang Tua (sepupu I)
(Generasi 2)
|
|
Pengekng
|
4
|
Pinggang/Pinggul bagian belakang
|
Saudara Kandung Kakek-Nenek
(Sepupu II)
(Generasi 3)
|
|
Pau Mayang/ Pukang
|
8
|
Persendian Pertama bagian Kaki
|
Saudara Kandung Orang Tua Kakek-Nenek
(Sepupu III)
(Generasi 4)
|
|
Ocotn
|
16
|
Persendian Kedua bagian Kaki
|
Saudara Sepupu Orang Tua Kakek-Nenek
(Sepupu IV)
(Generasi 5)
|
|
Pajari’atn
|
32
|
Bagian isi dan lemak yang sudah
tidak bertulang, bias dari sayatan katapi atau bagian lain yang diambil (3-4
jari)
|
Saudara Sepupu II Orang Tua Kakek-Nenek
(Sepupu V)
(Generasi 6)
|
|
Pangamin
|
64
|
Bagian isi dan lemak yang sudah
tidak bertulang, bias dari sayatan katapi atau bagian lain yang diambil (2-3
jari)
|
Saudara Sepupu II Orang Tua Kakek-Nenek
(Sepupu V)
(Generasi 7)
|
Catatan
:
Diatas
sudah dijelaskan bahwa pernikahan Dayak Kanayatn sangat menghormati hubungan
kekerabatan, Pirikng hanya dapat diberikan kepada ahli waris yang tidak saling melakukan
pernikahan dalam satu kerabat (turi), namun jika terdapat sudah/pernah saling
melakukan pernikahan maka pirikng tidak dapat dilanjutkan sampai di bagian mana
terputus.
SELAMATAN NIKAH
Selamatan Nikah
dilaksanakan oleh seluruh ahli waris dan handai tolah tuan pesta, pihak
parimatatn tidak terlibat dalam acara ini, karena mereka harus kembali ke rumah
untuk tujuan menyambut Tingkaakng Parimatatn.
Acara ini
dilangsungkan dalam bentuk makan bersama, dengan sajian-sajian khusus (ada
pihak tuan rumah, jika berasal dari keluarga mampu/beraa, menyuguhkan Babotn
Boat / Barakng – babi satu ekor yang sudah di masak dan siap di santap) di
selingi dengan minuman-minuman tradisional/modern.
MUNGKAR TINGKAAKNG PARIMATATN
Ngatur Tingkalakng
Paimbatatn sebagai tahapan penutup acara perkawinan adat adalah pembagian Adat
Tingkalakng Parimatatn, artinya sebuah tingkalakng (tempat yang terbuat dari
bambu) untuk dikirimkan kepada besan perempuan. Tingkalakng ini akan dibawa
kembali oleh rombongan pengantin perempuan saat turun barasi menuju rumah
pengantin laki-laki.
Paraga
Tingkaakng Parimatatn adalah :
1. Daging Babi
2. Anak Ayam (angsa-ukuran segumpal)
3. Tumpi’ – Poe’
4. Nasi satungkus
5. Sayuran Daging Babi (Sigah, Bamapm)
6. Beras paawakng dan Beras Pulut
7. Tembakau Jawa dan Rokok Nipah
8. Mi (makanan instan)
9. Minyak Tengkawang (minyak makan)
10. Bibit-Bibit Tanaman (Bibit kepala,
padi – wajib)
Sebelum dimakan
bersama seluruh waris pihak laki-laki, tingkaakng dibongkar dengan hati-hati
untuk di teliti, apakah ada dari sajian yang di hentarkan sangat spesial atau
seperti biasa. Biasanya isi tingkaakng
parimatatn tidak pernah berkurang, jika ada kekurangan, berarti penanda bahwa
dari pihak besan masih ada kekurangan dalam penghidupan nya.
Sebelum dimakan
bersama, dilangsungkan doa/nyangahatn singkat yang dipimpin oleh pendoa.
Tingkalakng parimatatn ini dapatlah dijadikan tanda bahwa kedua keluarga ini
telah bersatu dalam jalinan perkawinan.
Tingkalakng parimatatn
ini berfungsi untuk memantapkan jalinan persaudaraan keluarga pengantin perempuan
dan laki-laki.
PENGANTEN PUAKNG
Setelah 3 hari setelah
pelaksanaan hari pernikahan di rumah mempelai perempuan, maka kedua pengantin
pulang ke rumah pengantin laki-laki.
Kepulangan ini dapat
diatur sedemikian rupa, bleh rombongan dan juga boleh hanya mereka berdua.
Penyambutan di rumah
mempelai laki-laki pun dapat di atur sedemikian rupa juga, boleh mewah atau
boleh sesederhana mungkin bahkan boleh tertutup, yang intinya di malam hari
sebelum tidur sudah dapat bertemu dengan seluruh waris dari pihak laki-laki.
PENUTUP
Demikian kajian ini,
kiranya dapat menjadi bahan referensi dan isnpirasi dalam penyelenggaraan
pernikahan adat yang dirangkai dengan pernikahan gereja dan pernikahan modern.
Kiranya Tuhan selalu
memelihara setiap kita yang membaca karya kajian ini.
Tuhan Memberkati. Amin